GADINGNEWS, MAKASSAR – Merupakan satu hal yang menggembirakan adalah perkembangan perekonomian di Sulawesi Selatan yang saat ini makin membaik dan mengalami peningkatan yang seginifikan dari tahun sebelumnya.
Hal ini diungkap dalam Pertemuan pemaparan kinerja APBN Angin Mammiri Edisi April 2024 oleh Perwakilan Kementrian Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (29/4/2024).
Secara bergantian para Narasumber mempresentasikan diantaranya Kepala Kanwil DJPb Prov. Sulsel, Bapak Supendi, Kepala Bidang DP3, Kanwil DJP Sulselbartra, Bapak Soebagio, Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kanwil DJBC Sulbagsel, Bapak Zaeni Rokhman, Kepala Seksi Informasi, Kanwil DJKN Sulseltrabar, Bapak Bertua dan dipandu oleh Moderator Widyaiswara Madya BDK Makassar, Heru Cahyono.
Perkembangan Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Ekonomi Indonesia hingga Triwulan I 2024 diperkirakan tumbuh kuat, didorong kuatnya permintaan domestik yang berasal dari belanja negara dan aktivitas terkait pemilu, kenaikan gaji ASN ,serta pencairan THR. Pada regional Sulawesi Selatan, ekonomi tumbuh sebesar 4,51% (yoy).
Inflasi – Tingkat Inflasi di Sulawesi Selatan pada bulan Maret 2024 masih terkendali sebesar 2,75% (yoy), berada pada rentang sasaran 3%+1, sedikit menurun dibandingkan tingkat inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,93% (yoy). Tingkat inflasi month-to-month (m to m) sebesar 0,38% dan tingkat inflasi year to date (ytd) sebesar 1,05%.
Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang sebesar 4,69% dan terendah terjadi di Bulukumba sebesar 2,18%. Hal ini utamanya disebabkan kenaikan harga pada kelompok pengeluaran, antara lain yang paling besar adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,03%, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,43%, dan kelompok kesehatan sebesar 2,25%.
Ekspor-Impor – Beberapa komoditas seperti Nickle Matte, Ferro-Nickle, Rumput Laut, Karaginan dan Semen dan Pakan Ternak menjadi penyumbang terbesar untuk Ekspor, dimana negara tujuan ekspor terbesar adalah Jepang, Cina, Australia, USA, dan Taiwan.
Dari sisi Impor, komoditas penyumbang terbesar antara lain Gandum, BBM, Bungkil, Gula dan Kokas Batubara dengan negara impor terbesar dari Cina, Australia, Singapura, Thailand, dan Brazil.
Neraca Perdagangan Maret 2024 surplus sebesar 54,93 Juta US$. Nilai ekspor tercatat 145,95 Juta US$, terkontraksi -25,93% (yoy), sementara nilai impor tercatat 91,02 Juta US$, meningkat 9,35% (yoy).
![]()
Kinerja APBN Anging Mammiri
Pendapatan APBN Sulsel s.d. 31 Maret 2024 mencapai Rp3,59 Triliun atau 21,49% dari target, meningkat sebesar 1,32% (yoy). Belanja APBN Sulsel s.d. 31 Maret 2024 mencapai Rp11,93 Triliun atau 21,92% dari pagu, meningkat sebesar 18,24% (yoy). Kinerja APBN Sulsel tetap solid dalam menjaga pemulihan ekonomi dan melindungi masyarakat berlanjut.Penerimaan Negara.
Pajak – Kinerja Penerimaan Pajak s.d. 31 Maret 2024 mencapai Rp2,7 Triliun atau 19,51% dari target tahun 2024 sebesar Rp13,89 Triliun, menurun -4,02% (yoy). Mayoritas jenis pajak utama mengalami pertumbuhan negatif disebabkan aktivitas ekonomi yang melambat pada sektor konstruksi dan pertambangan, serta turunnya beberapa komoditas seperti nikel dan kelapa sawit untuk Pembiayaan Ultra Mikro (UMi), telah tersalurkan Rp34,34 Miliar (meningkat 155,67% yoy) utamanya kepada sektor usaha Perdagangan Besar dan Eceran sebesar Rp34,11 Miliar, diikuti sektor usaha Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan dan Perorangan Lainnya sebesar Rp0,12 Miliar, Jasa Pendidikan sebesar Rp0,07 Miliar dan Industri Pengolahan Rp0,04 Miliar.
![]()
Kinerja APBD Anging Mammiri Pendapatan Daerah
Pendapatan Daerah s.d. 31 Maret 2024 sebesar Rp9,19 Triliun, mengalami growth sebesar 23,39% (yoy), didominasi dari Pendapatan Transfer mencapai 21,22% atau sebesar Rp7,13 Triliun, disusul oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai 16,48% atau sebesar Rp2,02 Triliun, dan Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah mencapai 8,62% atau sebesar Rp33,62 Miliar.
Belanja Daerah – Belanja Daerah s.d. 31 Maret 2024 terealisasi sebesar Rp4,4 Triliun, didominasi oleh Belanja Operasi sebesar 11,66% atau Rp3,98 Triliun, disusul oleh Belanja Transfer sebesar Rp 6,70% atau Rp377,39 Miliar, Belanja Modal sebesar 0,78% atau Rp54,95 Miliar dan Belanja Tidak Terduga sebesar 2,02% atau Rp6,10 Miliar.
Transfer ke Daerah – TKD Sulawesi Selatan yang telah disalurkan sebesar Rp6,07 Triliun atau 75,74% dari total Pendapatan APBD. Besarnya kontribusi TKD menunjukkan bahwa dukungan dana pusat masih menjadi faktor dominan untuk pendanaan di wilayah Sulawesi Selatan. Pemerintah Daerah kiranya dapat berupaya untuk mengoptimalkan PAD, dengan langkah awal yang dapat dilakukan antara lain menciptakan kebijakan yang dapat menarik modal atau investasi daerah.
Risiko global masih tinggi dibayangi tensi geopolitik, tantangan digitalisasi ekonomi, perubahan iklim, dan transisi demografi menuju ageing population. Seiring dengan aktivitas ekonomi domestik yang terjaga, pertumbuhan Pendapatan dan Belanja APBN Anging Mammiri terus berlanjut, namun perlu mengantisipasi perlambatan tipis Penerimaan Perpajakan.Ditengah kondisi domestik yang relatif kuat, volatilitas pasar keuangan global dan perlambatan pertumbuhan perekonomian dunia perlu diwaspadai.
APBN 2024 dioptimalkan sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli, menjaga stabilitas ekonomi, dan mendukung berbagai agenda Pembangunan. Acara yang di tutup dengan tanya jawab juga ,dikupas mengenai Pembatasan membawa barang, brand dan pengenaan pajak, dimana disini, menggugah kesadaran membayar pajak dan mencintai produk dalam negeri .(May/*)
