Sejarah Masjid Dalam Gang di Jakarta, Berusia 250 Tahun-Pendirinya Wanita Tionghoa

GADINGNEWS, JAKARTA – Masjid Jami Al Anwar atau juga dikenal sebagai Masjid Angke adalah masjid tua yang usianya lebih dari 250 tahun. Masjid ini diperkirakan didirikan sejak 1761 M. Masjid ini menyimpan sejarah masyarakat Angke.

Masjid ini terletak di sebuah gang kecil di daerah Angke. Tepatnya di Jl. Pangeran Tubagus Angke, Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Berkunjung ke sini traveler mesti berjalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua.

Bacaan Lainnya

Siapa sangka di dalam gang ini ternyata terdapat masjid unik yang sudah berumur lebih dari 250 tahun. Kesan klasik pun sudah terlihat dari bangunan ini yang mengangkat gaya tradisional dari berbagai budaya. Ada kultur Jawa, Bali, Arab, Tionghoa, bahkan Eropa menyertai bangunan ini.

Jadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai etnis

Masjid ini selain unik karena menyimpan arsitektur yang tak biasa, ternyata juga menyimpan sejarah perjuangan masyarakat setempat pada era kolonialisme.

“Masjid Angke ini selain jadi masjid tertua di Jakarta, juga merupakan tempat orang-orang berkumpul untuk membahas strategi perang melawan Belanda. Walaupun kawasan ini sebenarnya tidak jauh dari kawasan pemerintahan kolonial saat itu, yang ada di daerah Jakarta Kota saat ini,” kata perwakilan Himpunan Pramuwisata Indonesia Jakarta, Dwinda Nafisah kepada awak media, Sabtu, (15/4/2023).

Ketua Bidang Sejarah dan Bangunan Masjid Angke, Abyan Abdillah, menyebut tempat ini sering jadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai daerah. Itu terlihat dari nisan pada makam di sekitar tempat ini memiliki bentuk yang beragam.

“Para sejarawan dan arkeolog juga, saat restorasi (masjid) kan ngumpul di sini. Memang di sini sentral dari perkembangan Islam dari Kerajaan Demak Cirebon tadi. Makanya jangan heran nisan makam di sini tidak ada yang sama, itu menandakan tidak dari satu daerah tidak dari satu tempat, jadi perpaduan NKRI-nya kelihatan sekali,” kata dia.

Bahkan, pada terjadinya tragedi kelam geger pecinan di tahun 1740, Masjid ini menjadi rumah aman bagi masyarakat etnis Tionghoa.

“Pas terjadi pembantaian suku Tionghoa, tragedi geger pecinan 1740, sebagian besar lari ke kampung Angke. Dan tidak diusir, malah dilindungi dari kejaran-kejaran tentara VOC,” ujar dia.

Didirikan oleh seorang wanita Tionghoa

Pendirian masjid ini diinisasi oleh seorang wanita Muslim Tionghoa, yakni Tan Nio. Dia istri seorang bangsawan dari Banten. Dia mewakafkan hartanya untuk pembangunan masjid.

Sementara itu, dalam proses perancangan bangunan masjid juga dibantu oleh seorang Muslim Tionghoa bernama Syaikh Liong Tan. Syaikh Liong Tan dimakamkan di sebelah barat masjid tersebut.

Sejarah Pangeran Tubagus Angke

Selain itu, Masjid Angke juga menyimpan sejarah dari seorang tokoh di kampung tersebut. Adalah Pangeran Tubagus Angke, yang namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di sini.

Pangeran Tubagus Angke adalah seorang adipati atau pemimpin Jakarta pada saat itu, atau dikenal sebagai Jayakarta kedua, setelah Fatahillah yang merupakan pemimpin Jayakarta pertama.

Setelah Fatahillah berhasil menaklukkan Sunda Kelapa dan mengganti nama daerah itu menjadi Jayakarta yang artinya kemenangan, Fatahillah dikisahkan kembali ke Demak. Lalu, kekuasaan tersebut digantikan oleh Tubagus Angke.

“Tokoh yang terkenal di kampung kita ini, yang namanya diabadikan sebagai nama jalan, yaitu Pangeran Tubagus Angke. Beliau adalah seorang tokoh, adipati atau pemimpin Jayakarta kedua, setelah Fatahilah. Jadi beliau dikenal dengan Jayakarta kedua, setelah Fatahilah kembali ke Demak usai menaklukkan Sunda Kelapa, kemudian mengganti namanya jadi Jayakarta yang artinya kemenangan. Digantikan kepemimpinannya oleh Tubagus Angke menjadi Jayakarta kedua,” kata Abyan.

“Beliau sendiri merupakan panglima perang kesultanan Banten dan juga menantu dari Sultan Hasanudin Banten. Beliau berdarah Cirebon Arab, cucu dari Syekh Nurjati Cirebon, yang merupakan gurunya Sunan Gunung Djati. Jadi, memang Jakarta, Cirebon, Banten, satu keluarga lah kalau dikatakan,” Abyan menjelaskan.

Dia menuturkan kalau sejak zaman dulu sejarah Angke dihilangkan oleh Belanda. Oleh sebab itu, dia berujar kalau mencari sumber sejarah Angke di artikel sulit ditemui, dan baru dapat ditemui ketika berkunjung ke Angke.

Selain itu, Pangeran Tubagus Angke juga sengaja menyembunyikan jati dirinya ketika periode perang bersama Belanda. Itu agar menghindari ancaman dari tentara Belanda.

Hingga saat ini, masjid ini masih berdiri kokoh dan dapat dikunjungi untuk beribadah ataupun berwisata religi.(*)

Pos terkait