Kenangan 25 Tahun Lalu Aktivis 98, Danny Pomanto: Terima Kasih Pejuang Reformasi

GADINGNEWS, MAKASSAR – Sekretaris Jenderal Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) 1994-1999 yang juga mantan aktivis 98, Pius Lustrilanang menceritakan momen ketika Kota Makassar menjadi pusat gerakan reformasi mahasiswa di Indonesia Timur. Hal ini pula yang menjadi alasan perayaan 25 tahun reformasi dilaksanakan di Makassar setelah Jakarta.

“Untuk Indonesia Timur gerakan mahasiswa itu pusatnya di Makassar, jadi setelah Jakarta sebagai tempat kejadian kita laksanakan di gedung DPR MPR RI, saya memilih Makassar karena gerakan mahasiswa yang paling menonjol di zaman rezim orde baru ada di Makassar,” ujar Pius Lustrilananang di Anjungan Pantai Losari, Minggu (28/5/2023).

Bacaan Lainnya

Pius menceritakan perjalanannya dalam meruntuhkan kediktatoran rezim Soeharto. Ia mengatakan dirinya pernah diculik, disetrum, bahkan sampai diancam akan dibunuh.

“Reformasi diperjuangkan dengan darah dan air mata, saya merasakan juga kekejaman rezim orde baru, saya diculik selama 2 bulan, disiksa, disetrum, dipukulin, ditodong, dimasukkan di bak air,” ucapnya.

Meski begitu, Pius menegaskan ancaman itu tidak menghilangkan keberaniannya untuk meruntuhkan orde baru. Dia menilai hal itu justru yang membangkitkan semangat mahasiswa lainnya dalam memperjuangkan reformasi.

“Tapi karena kesaksian yang saya lakukan tanggal 27 April 1998 mulai penculikan saya meskipun diancam akan dibunuh ini kemudian membangkitkan keberanian seluruh mahasiswa, kemarahan seluruh rakyat yang berujung pendudukan gedung DPR MPR, dan memaksa Presiden Soeharto dinyatakan berhenti dari jabatannya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Pius mengenang perjalanan yang begitu panjang dalam merebut reformasi hingga dalam genggaman. Dia pun mengatakan perjuangan itu bukanlah perjalanan yang mudah hingga semua masyarakat bisa merasakannya sampat saat ini.

“Perlu 20 tahun untuk memperjuangkan reformasi, setidaknya sejak tahun 1978 ketika seluruh kampus pergerakan diduduki militer untuk membungkam gerakan mahasiswa, 78 sampai 98 perlu 20 tahun. Tidak terhitung begitu banyak orang yang ditahan, disiksa, dibunuh demi memperjuangkan reformasi yang kita nikmati hari ini,” terangnya.

Hal itulah yang menjadi alasan Pius menggelar kegiatan yang bertajuk ‘Terimakasih Reformasi’ di Kota Makassar. Dia mengatakan semua harus berterima kasih kepada para pejuang reformasi.

“Judul acara ini adalah terima kasih reformasi, kita harus berterima kasih kepada mahasiswa, kepada para pejuang yang telah mewujudkan demokrasi di negeri yang kita cintai ini,” ucapnya.

Sementara itu Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto pun turut mengucapkan terima kasih untuk para aktivis 98. Berkat para aktivis 98, kata dia, sampai saat ini semua bisa merasakan reformasi.

“Izinkan saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya karena perjuangan beliau-beliau di depan ini menjadi di front terdepan sehingga reformasi tercetus, banyak konstitusi berubah dan kita bisa seperti ini,” ujarnya.

“Terima kasih juga untuk seluruh masyarakat Kota Makassar, izinkan saya menyampaikan terima kasih atas perjuangan bapak dan kawan-kawan dan insya Allah Makassar selalu tegak lurus dengan hasil reformasi,” lanjutnya.

Diketahui aktivis 98 yang tergabung dalam Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar jalan sehat memperingati 25 tahun reformasi di Anjungan Pantai Losari Makassar. Warga Makassar diajak memperjuangkan kelanjutan perjuangan reformasi dan menjaga demokrasi.(*)

Pos terkait