“Pernah lihat sekali itu, ibunya doang,” kata Ari.
Setelah itu, Ari tidak pernah lagi melihat ada yang mengantar makanan ke rumah tersebut. Ari tinggal persis bersebelahan dengan keluarga itu.
Sempat Minta PLN Putuskan Aliran Listrik
Salah satu korban yaitu DF disebut sempat meminta pemutusan aliran listrik kepada petugas PLN.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua RT 015/RW 7 Kalideres, Asiung. Dia menyebut DF sempat berkomunikasi dengan petugas PLN ihwal pemutusan aliran listrik pada 4 Oktober 2022.
“Oktober dia komunikasi sama petugas PLN tanggal 4 Oktober, Pak, silahkan diputus saja, nanti kalau mau pasang baru saya hubungi bapak, dia langsung direct ke petugas PLN,” imbuh Asiung.
Rumah Terkunci dari Dalam
Polisi mengatakan bahwa rumah yang menjadi lokasi penemuan empat korban itu terkunci dari dalam. Penemuan empat jasad itu bermula dari kecurigaan warga yang mencium bau busuk dari dalam rumah tersebut.
Pihak kepolisian dan secara bersama-sama membuka rumah tersebut yang mana kondisi pagar dan pintu terkunci di dalam.
Temuan Kapur Barus dan Lilin di Rumah
Ketua RT 07/RW 15 Kalideres Asiung mengatakan pihaknya sempat menemukan kapur barus dan lilin dalam rumah keluarga tersebut.
“Ada di meja, sama lilin. Di piring, taruh di mangkok,” kata Asiung.
Menurut Asiung kapur barus dan lilin itu terletak paling dekat dengan mayat yang berada di ruang tengah.
Tidak Ditemukan Tanda Kekerasan
Keempat jasad itu saat ditemukan langsung dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk diautopsi. Setelah diperiksa, tim dokter forensik tidak menemukan bekas luka penganiayaan pada empat jasad tersebut.
Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar mengatakan keempat jasad itu juga sudah membusuk dan diduga telah tewas lebih dari satu pekan.
“Tidak ditemukan tanda kekerasan. Untuk jenazah membusuk ini karena sudah lebih dari satu minggu,” kata Syafri.
Lama Tak Mendapat Asupan Makanan
Keempat jasad yang ditemukan itu disebut sudah tak lama mendapat asupan makanan dan minuman. Hal ini diketahui berdasarkan pemeriksaan oleh dokter forensik RS Polri Kramat Jati.
“Berdasarkan pemeriksaan bahwa dari lambung para mayat ini tidak ada makanan, jadi bisa diduga berdasarkan pemeriksaan dari dokter bahwa mayat ini tidak ada makan dan minum cukup lama, karena dari otot-ototnya sudah mengecil,” kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pasma Royce.
Korban Meninggal Dalam Waktu Berbeda
Kepolisian juga mengatakan bahwa empat orang ini tewas dalam waktu yang tidak bersamaan. Menurut Pasma, hal itu diketahui dari perbedaan waktu pembusukan empat jasad.
“Jadi, itu dari bapaknya, ibunya, iparnya, semuanya di waktu berbeda meninggalnya, sehingga pembusukannya masing-masing berbeda,” jelasnya.
Selain itu, keempatnya tergeletak pada posisi yang berbeda-beda. Bapak ditemukan di ruang kamar bagian belakang, sang paman ditemukan di ruang tamu dalam posisi bersandar di sofa.
Sedangkan, posisi jenazah sang ibu dan anaknya, yakni RM dan DF, ditemukan berada di ruang kamar depan.
Korban Tewas Pertama Diduga Ditaburi Kapur Barus
Wali Kota Jakarta Barat Yani Wahyu Purwoko menduga salah satu anggota keluarga yang tewas di Kalideres, Jakarta Barat, ada yang mencoba menutup-nutupi kematian korban lainnya dengan menaburi kapur barus. Yani menyebutkan keempat korban tersebut tidak meninggal dunia pada saat yang bersamaan.
“Bapaknya meninggal disikapi dengan hanya ditaburi kapur barus. Kemudian, berikutnya yang meninggal adalah ibunya, itu juga disikapi seperti itu,” kata Yani saat ditemui di tempat kejadian perkara (TKP), Sabtu (12/11).
Dalam kesempatan yang sama, Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar mengatakan kapur barus berfungsi untuk menyerap bau.
“Kapur barus kan ada ditemukan di TKP, dokter forensik mengatakan bahwa kapur barus bisa menyerap bau,” kata Syafri.
Keluarga Korban Ragukan Dugaan Isu Kelaparan
Keluarga korban tewas di Kalideres, Jakarta Barat, Ris Astuti (64) meragukan dugaan yang menyebut, sanak saudaranya itu meninggal dunia lantaran kelaparan. Ia juga menyampaikan bahwa kondisi ekonomi korban dalam kondisi yang cukup.
“Kecil sih kalau menurut saya ya…Ini rada aneh juga sih saya juga bingung, misalnya kalau dia lapar, enggak ada makanan atau kurang buat makan, kan dia bisa menghubungi kita,” kata Ris Astuti kepada wartawan, Sabtu (12/11).
Lanjut ke halaman berikutnya
